Neira dan Abu-abu
Sorai, renjana yang samar terdengar oleh teriaknya
Menyahut tak bertaut, sang pemikat menjauh dengan terluka
Tubuh kecilnya yang jatuh bersama angin, lemah, tak berdaya
Wahai pemilik bola mata bening nan indah, nyaris tak bercela
Menahan semua gemercik terian pengantar tidurmu
Maukah sejenak berdiam dan ceritakan isi kepala berisikmu?
Karena aku tak melihat warna apapun di ruangan itu
Kisah mengagumkan dari Tuan sang pemikat noda abu-abu
Sementara. . .
Aku terpikat sementara oleh warna yang nyatanya hampa
Selepas raganya berlarian saat pulang mengangkasa
Aku terjebak oleh pesonamu wahai abu-abu yang celaka
Dari Neira untuk noda abu-abu miliknya
Kita adalah sepasang luka yang berbahaya
Hingga semesta membawa kabar baik untuk mereka
Peluklah noda itu Neira, maka kamu akan baik-baik saja
Ada apa dengan sisi tangan kirimu yang merona itu?
Sang Tuan berbalik arah, tenggelam dengan hangatnya yang penuh rindu
Ia ingin menjadi warna samar yang berlabuh, tumbuh tanpa ragu
Pulanglah Neira, langitmu dan noda abu-abu sedang menunggumu.
Komentar
Posting Komentar