Kita dan Kota
Our first letter slipped that nite,
for those of you whore lonely.
Hari tetap sama,
Tak juga cerah,
Tak juga mendung.
Suasana masih saja memberi rasa hampa,
Kosong, tak beraturan.
Hari- hari terus saja terasa diam,
dan kamu terus saja terasa asing.
Kita terus saja tak teriring,
Di bawah lampu sorot utama,
Kamu terus saja menjauh,
Mengitari bayangan gelap yang kian perlahan,
Dibawa sorotan kusut di malam itu.
Langit membasahi jalan,
Terus saja dalam setapak yang sama.
Aku dan kita berjalan mengitari waktu,
Dalam setiap kota,
Kita terus saja merekam objek,
Cerita dalam setiap sudut ruang,
Tentang kamu,
Aku,
Dan hari itu.
Semesta dan birunya langit,
Seakan menutupi jingganya perasaan kita,
Yang dulu pernah terselimuti oleh senja.
Hingga hari itu,
Semua seakan menghindar,
Menutup satu persatu,
Lalu pergi.
Setelah semua kisah yang kita rangkai,
Tempat yang menjadi monolog kamera,
Kamu memberikan ukuran indah,
Bersama dengan si pena kecil,
Sang penulis narasi ini.
Sang penulis narasi ini.
Bagaimana caramu menatap,
Datang dan jatuh,
Dalam genggaman.
Bahkan,
Bumi ini menjadi pelindung,
Tiap jalan yang kita lewati saat itu.
Rasa dingin malam,
Sepi dan ramai,
Terbius dengan angin malam,
Saksi bisu indah dari dunia.
Kamu ada,
Untuk kita, di hari ini.
Cerita ini sebelumnya sudah selesai,
Walaupun tidak terjelaskan pasti,
Kisah apa yang terjadi,
Antara kamu, aku,
Dan kita di hari itu.
Hingga,
Hanya ada segenggam kopi.
Kamu berikan untaian rasa,
Dalam hangatnya lingkaran,
Seperti menyusut di atas gelasmu.
Di atas meja,
Tempat kita pertama kali bertemu,
Dan kembali dipertemukan.
Berdua,
Menatap,
Dan merindu . . .
Komentar
Posting Komentar